ilmu teknik sipil
Jumat, 16 Agustus 2013
pengawetan bambu
Pengawetan bambu
Secara anatomis bambu berbeda dengan kayu. Batang bambu berlubang, berbuku
dan beruas. Kulit batang tidak mengelupas, melekat kuat dan sukar ditembus oleh
cairan. Batang bambu dalam keadaan utuh relatif lambat kering dan pengeringan
yang terlalu cepat menyebabkan pecah atau retak.
A. Pengawetan bambu basah
1. Proses boucherie
Proses ini dilakukan pada bambu yang baru ditebang, yaitu batang belum
dibersihkan, cabang dan daun masih lengkap. Pada bagian pangkal batang
dihubungkan dengan bak yang berisi larutan pengawet. Bahan pengawet masuk
melalui bidang potong dan dari bagian dalam menembus sampai ke ujung batang
dengan bantuan proses penguapan (George dalam Findlay, 1985). Bidang
penyerapan larutan dapat diperluas dengan cara menguliti bagian pangkal batang
agar waktu pengawetan lebih pendek. Dalam proses itu, waktu pengawetan
dipengaruhi oleh antara lain: jenis dan kadar air bambu, iklim serta bahan pengawet
yang digunakan. Sebagai contoh pengawetan bambu Dendrocalamus strichus pada
kadar air 72,1% menggunakan 10% ZnCl2 diperoleh retensi 12,6 kg/m3 dan pada
Bambusa polymorpha pada kadar air 110% diperoleh retensi 28,4 kg/m3 pada
panjang yang sama, yaitu 7,2 m (George dalam Findlay, 1985). Pada bambu ater
(Gigantochloa atter Kurz.) menggunakan campuran boraks, asam borat dan polybor
dalam waktu 1 hari 75% dari panjang batang sudah ditembus bahan pengawet
dengan retensi 7,24 kg/m3 (Barly dan Sumarni, 1997).
2. Modifikasi proses boucherie
Dilakukan dengan cara ujung ranting dan pohon dipangkas. Kemudian pada bagian
pangkal batang yang baru ditebang dipasang selubung kedap air dan dengan
bantuan pompa tekan, secara hidrostatis larutan bahan pengawet dimasukkan dan
mendorong cairan yang terdapat di dalam batang bambu ke luar (Kumar et al.,1994).
Suardika (1994) menggunakan pompa listrik dengan tekanan 2 kg/m2 untuk
menggantikan pompa air sederhana dan Morisco (1999) menggantinya dengan
tabung udara yang dapat dipompa secara manual bertekanan 3 kg/m2 – 5 kg/m2.
B. Pengawetan bambu kering
Pengawetan bambu dalam keadaan utuh dengan cara vakum-tekan jarang dilakukan
karena mudah pecah, tetapi jika diperlukan ruas antar buku harus dilubangi.
Pembuatan lubang di ruas juga berlaku pada pengawetan dengan cara rendaman
dingin, rendaman panas-dingin atau pencelupan agar penembusan bahan pengawet
merata. Cara rendaman, pencelupan dan pelaburan dapat dilakukan terhadap
bambu kering berupa bilah dan sayatan.
Langganan:
Postingan (Atom)